Berikut Fakta Mengejutkan Tentang ‘Flat Earth Society’

Berikut Fakta Mengejutkan Tentang ‘Flat Earth Society’

Berikut Fakta Mengejutkan Tentang ‘Flat Earth Society’Masyarakat adalah sekelompok manusia yang terjalin erat karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama, serta mengarah pada kehidupan kolektif.

Seperti namanya, flat earth society atau para “kaum” Bumi datar adalah orang-orang yang percaya kalau Bumi itu datar. Mereka percaya kalau klaim bahwa Bumi itu bulat adalah sebuah konspirasi yang disebarkan oleh pemerintah dunia, badan antariksa, dan perusahaan swasta. Anehnya, mereka justru percaya kalau planet Mars itu bulat. .

Tentu saja, segala usaha dan upaya mereka untuk membuktikan teori ini adalah pekerjaan yang berat, bahkan jika itu harus membuat klaim konyol dan tidak saintifik. Berikut Daftar Club388 tujuh fakta aneh dan mengejutkan yang (mungkin) belum kamu ketahui tentang kaum Bumi datar.

1. Mereka mengklaim gerhana matahari dan gerhana bulan sebagai bukti kalau Bumi itu datar
7 Fakta Mengejutkan & Kontroversial tentang 'Flat Earth Society'

Gerhana matahari adalah bukti konkret kalau Bumi itu bulat. Logikanya, seluruh dunia akan melihat gerhana matahari pada saat yang bersamaan jika Bumi itu datar. Namun, penganut Bumi datar mengklaim kalau gerhana matahari justru membuktikan kalau Bumi itu datar.

Kaum Bumi datar mengklaim kalau Bulan akan menghasilkan bayangan yang lebih besar selama gerhana matahari jika Bumi itu bulat, sehingga seluruh dunia akan diselimuti dengan kegelapan. Selain itu, mereka juga mengatakan kalau gerhana bulan adalah bukti lain kalau Bumi itu datar.

Mereka memiliki beberapa penjelasan menarik tentang gerhana bulan, salah satunya menyebutkan kalau objek “tak dikenal” yang menjadi sebab di balik gerhana bulan. Mereka berspekulasi kalau itu adalah objek asing yang mengorbit di antara Bumi dan Bulan, entah itu sebuah planet atau asteroid.

Namun seperti yang dilansir dari Space.com, para astronom telah memastikan kalau tidak ada planet lain yang bisa “menyelinap” di antara Bulan dan Bumi.

2. Mereka percaya kalau matahari itu kecil dan terletak di atas Bumi 
7 Fakta Mengejutkan & Kontroversial tentang 'Flat Earth Society'

Bumi mengalami dua ekuinoks (sebuah fenomena astronomi ketika matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa) setiap tahunnya, yang pertama di bulan Maret dan yang lainnya di bulan September. Ekuinoks terjadi karena Bumi itu berbentuk bulat dan memiliki kemiringan sumbu sepersekian derajat. Namun, kaum Bumi datar tidak setuju dengan teori ini.

Seperti dijelaskan dalam laman IFLScience, mereka mengatakan kalau ekuinoks terjadi karena matahari berada tepat di atas Bumi dan terus berputar di sekitar Kutub Utara, yang menurut mereka menjadi pusat dunia. Kaum Bumi datar juga menambahkan kalau Matahari jauh lebih kecil dari ukuran yang sering digembar-gemborkan oleh para saintis NASA.

3. Namun, mereka percaya kalau planet Mars itu bulat 
7 Fakta Mengejutkan & Kontroversial tentang 'Flat Earth Society'interestingengineering.com/

Pada November 2017, Elon Musk membuat sebuah tweet, “Mengapa tidak ada Flat Mars Society!?” Tak lama setelahnya, akun Twitter The Flat Earth Society pun menjawab, “Hai Elon, terima kasih atas pertanyaannya. Tidak seperti Bumi, Mars memang berbentuk bulat.”

Jawaban ini mengejutkan karena kita semua mungkin berasumsi kalau penganut Bumi datar akan menganggap Mars (dan planet lainnya) datar juga. Tak hanya itu, akun The Flat Earth Society memberikan kejutan lain setelah menjelaskan kalau belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan kalau Mars itu datar.

Mereka pun mengeluarkan pernyataan aneh lainnya ketika seseorang mengkritik klaim mereka. “Kami tidak tahu. Mengapa Bumi menjadi satu-satunya benda langit yang memiliki kehidupan cerdas di dalamnya? Mungkin karena Bumi itu unik, atau mungkin kita hanya perlu terus mencari saja?”

4. Mereka merencanakan pelayaran ke “ujung dunia” 
7 Fakta Mengejutkan & Kontroversial tentang 'Flat Earth Society'

Sebagian besar penganut Bumi datar percaya kalau tepian bumi dikelilingi oleh dinding es yang sangat tinggi. Sekarang, beberapa penganut Bumi datar merencanakan ekspedisi ke ujung dunia untuk membuktikan klaim mereka dan mengakhiri argumen “datar atau bulat” selamanya.

Pelayaran ini direncanakan oleh Konferensi Internasional Bumi Datar (FEIC), yang masih menutup rapat informasi tentang ekspedisi ini. Namun, ekspedisi tersebut telah membuat beberapa ahli geleng-geleng kepala karena kapal yang mereka naiki menggunakan peralatan seperti GPS, sebuah alat yang dibuat berdasarkan bentuk Bumi yang bulat.

5. Meluncurkan roket pribadi untuk melihat bentuk Bumi secara langsung 
7 Fakta Mengejutkan & Kontroversial tentang 'Flat Earth Society'

Mike Hughes, salah satu penganut Bumi datar, ingin melakukan perjalanan ke luar angkasa untuk membuktikan kalau Bumi itu datar. Untuk mewujudkannya, Hughes membuat sebuah roket di halaman belakang rumahnya. Roket itu bukanlah roket yang sempurna, hanya sebuah prototipe seharga US$20.000 dan dibuat dari seonggok besi tua.

Hughes pun menguji roketnya pada Maret 2018. Roket itu (dan Hughes) terbang sejauh 572 meter ke udara setelah diluncurkan sebelum akhirnya terhempas ke tanah. Hughes mendapatkan beberapa luka memar pada saat itu. Tentu saja, percobaan ini bukanlah yang terakhir baginya.

Pada 2 Februari 2020, ia kembali melakukan penerbangan yang didokumentasikan oleh Science Channel. Sayangnya, roket yang dikendarai Hughes mengalami crash landing dan merenggut nyawanya pada hari itu.

6. Beberapa kaum Bumi datar percaya kalau teleportasi adalah alasan utama mengapa pesawat tidak “terjatuh” ke luar angkasa 
https://www.youtube.com/embed/JVl1a9JvtUc

Kita sudah menyebutkan kalau penganut Bumi datar percaya pada dinding es yang mengelilingi tepian Bumi. Singkatnya, tembok itu adalah Antartika. Mereka juga mengklaim kalau NASA memiliki agen yang menjaga tembok itu agar tidak ada yang memanjatnya.

Kita juga tahu kalau beberapa penganut Bumi datar memiliki teori yang rumit tentang penerbangan pesawat. Pada tahun 2018, Darren Nesbit, seorang penganut Bumi datar, mengklaim kalau pesawat tidak akan terjatuh dari tepi Bumi karena dua alasan: teleportasi atau lubang cacing yang ada di tepian Bumi.

Nesbit menjelaskan teorinya dengan apa yang disebutnya sebagai “efek Pac-Man.” Nesbit menyebutkan kalau teleportasi pesawat sama seperti sosok hantu dalam game klasik Pac-Man, ketika mereka memasuki salah satu ujung layar dan muncul di ujung lainnya.

Penganut Bumi datar lainnya, Connor Murphy, memiliki pendapat yang lebih imajinatif. Dia mengatakan kalau Bumi tidak datar tapi berbentuk kubah, setengah bola atau semacamnya. Menurutnya, Bumi tidak memiliki tepi. Sebaliknya, kita semua terkunci di dalam kubah, jadi tidak ada yang bisa jatuh dari tepi bumi.

7. YouTube telah mengkonversi banyak orang menjadi penganut Bumi datar
7 Fakta Mengejutkan & Kontroversial tentang 'Flat Earth Society'

Seperti yang diketahui, ada peningkatan signifikan di kalangan penganut Bumi datar dalam beberapa tahun terakhir. Faktanya, ada begitu banyak penganut Bumi datar di luar sana sampai-sampai mereka bisa mengadakan konferensi tahunan. Pada tahun 2017 dan 2018, sekelompok peneliti dari Universitas Texas Tech mencoba untuk meneliti feonemena ini.

Mereka pun ikut menghadiri konferensi Bumi datar setiap tahunnya dan mewawancarai 30 penganut Bumi datar. Dari 30 responden, 29 mengatakan kalau mereka sempat percaya kalau Bumi itu bulat sampai mereka menonton video YouTube yang “membuktikan” kalau Bumi itu datar.

Awalnya, mereka menonton video konspirasi 9/11 dan pendaratan di Bulan sampai algoritma YouTube membawa mereka ke konspirasi Bumi bulat. Melihat fakta ini, YouTube kemudian mengklarifikasi kalau mereka akan membatasi jumlah konten “kontroversial” seperti teori Bumi datar yang sering direkomendasikan kepada penggunanya.

Namun, YouTube mengatakan kalau mereka tidak bisa melarang semua penayangan video Bumi datar hanya karena mereka itu palsu dan tidak terbukti secara saintifik.

Teori Bumi datar memang menjadi pembahasan yang kontroversial dalam beberapa tahun terakhir. Entah itu memang benar atau tidak, nyatanya teori ini hanya menjadi pseudosains yang belum terbukti secara saintifik.