Dari Hasil Survei Masyarakat Percaya PPKM Turunkan Covid-19

Dari Hasil Survei Masyarakat Percaya PPKM Turunkan Covid-19

Dari Hasil Survei Masyarakat Percaya PPKM Turunkan Covid-19 – Survei terbaru Charta Politika, 92,3 persen masyarakat Indonesia percaya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dapat menurunkan kasus COVID-19. Survei ini dilakukan pada 12-20 Juli 2021 menyasar 1.200 responden dari seluruh provinsi di Indonesia.

Hampir seluruh responden tersebut mengaku mengetahui tentang pemberlakuan PPKM mampu menurunkan angka kasus COVID-19. Mayoritas (52,7 persen) juga meyakini, penerapan perpanjangan PPKM di wilayahnya akan berjalan baik. Hasil survei juga menunjukkan, 53,1 persen responden percaya dengan data yang dirilis oleh Pemerintah terkait COVID-19.

Ini termasuk kabar yang positif, karena masih lebih banyak masyarakat yang percaya dengan data Pemerintah daripada yang tidak percaya. “Pemerintah sangat terbantu dengan adanya temuan-temuan hasil survei Charta Politika ini,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika RI Johnny G. Plat, Sabtu (14/8/2021).

1. 64,3 persen responden menolak bila PPKM Darurat diperpanjang
Survei Indikator: Masyarakat Percaya PPKM Darurat Turunkan Angka COVID

PPKM darurat diberlakukan pemerintah sejak Juli 2021. Durasinya diberlakukan selama satu pekan dan terus dievaluasi.

Kemudian, penamaannya diubah menjadi PPKM dengan tingkatan level. PPKM level 3 di Pulau Jawa dan Bali akan ditentukan nasibnya tiap hari Senin.

Berdasarkan responden yang ditanya oleh Indikator, mayoritas menolak PPKM kembali diperpanjang, angkanya mencapai 64,3 persen. Hanya 26 persen responden yang setuju bila PPKM diperpanjang.

“Mayoritas atau sekitar 72,6 persen responden menyatakan setuju PPKM diperpanjng dengan alasan kesehatan yakni memutus mata rantai penularan hingga mengurangi tingkat kematian. Tetapi, yang tidak setuju, sebagian besar beralasan ekonomi. Sebanyak 70,4 persen responden mengatakan gara-gara PPKM mata pencaharian berkurang,” ungkap Burhanuddin.

Dari hasil survei itu, kata dia, menunjukkan masyarakat terbelah ketika memotret kebijakan PPKM yang diterapkan oleh pemerintah. Burhanuddin menilai hasil survei tersebut menandakan di satu sisi masyarakat mengapresiasi kinerja pemerintah yang telah membawa turun kasus COVID-19.

“Tetapi, di sisi lain pemerintah dinilai tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat ketika mereka diminta untuk stay at home. Istilahnya bila pemerintah tidak mampu memberi nafkah bagi masyarakat menengah ke bawah ya jangan dilarang untuk bekerja di luar rumah,” katanya lagi.

2. Publik apresiasi kinerja Budi Gunadi sebagai Menkes dalam atasi pandemik
Survei Indikator: Masyarakat Percaya PPKM Darurat Turunkan Angka COVID

Sementara, berdasarkan data dari respondennya, sebanyak 38,1 persen percaya Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin bisa bekerja dengan baik mengatasi pandemik COVID-19. Tetapi, ada 11,2 persen yang menyatakan tidak percaya Budi mampu mengatasi pandemik. Sedangkan, 38,3 persen responden mengatakan kemampuan Budi biasa-biasa saja dalam mengatasi pandemik.

“Ini artinya konsisten publik mengapresiasi kinerja Menkes, Pak BGS dalam menangani COVID-19 ketika survei dilakukan pada pertengahan September 2021,” ungkap Burhanuddin.

Di sisi lain, responden juga menunjukkan peningkatan kepuasan terhadap kinerja presiden dalam penanganan COVID-19. Data menunjukkan pada Juli 2021, ada 61 persen responden yang menyatakan puas dengan kinerja Presiden Joko “Jokowi” Widodo menangani COVID-19. Sedangkan, pada September 2021, terdapat kenaikan sedikit soal tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi. Angkanya mencapai 61,8 persen.

Burhanuddin menjelaskan temuan hasil survei nasionalnya melibatkan 1.200 responden di seluruh Indonesia dan dipilih secara acak. Survei itu memiliki tingkat toleransi kesalahan mencapai 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

3. Epidemiolog sebut lonjakan angka kematian terjadi pada warga yang belum divaksinasi
Survei Indikator: Masyarakat Percaya PPKM Darurat Turunkan Angka COVID

Sementara, epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI), Pandu Riono, menilai masyarakat sudah mulai beraktivitas bila dalam keadaan negatif COVID-19 dan telah menerima vaksinasi lengkap. Menoleh ke belakang, lonjakan angka kematian harian pada rentang Juli hingga Agustus disebabkan banyak warga yang belum divaksinasi.

“Dan ini termasuk nakes yang kena hingga meninggal karena belum divaksinasi lengkap. Bahkan, ada juga kelompok nakes yang tidak mau divaksinasi,” ungkap Pandu di diskusi virtual yang sama.

Ia juga menyebut banyaknya bantuan dan donasi vaksin dari negara-negara asing ke Indonesia turut mempercepat vaksinasi di Tanah Air. Pandu berharap pada akhir 2021, sebanyak 50 persen warga di Indonesia sudah menerima vaksin dua dosis.

“Sedangkan, warga yang sudah meminta dosis ketiga itu masuk kelompok yang parno. Mereka tidak percaya bahwa vaksin dua dosis sudah melindungi dia dari COVID-19 berat dan kematian. Percayalah apapun merek vaksinnya, termasuk vaksin buatan China, itu dampak perlindungannya cukup baik untuk semua varian (COVID-19),” tutur dia.