Alasan Sebagian Masyarakat Indonesia Masih Gak Mau Divaksin

Alasan Sebagian Masyarakat Indonesia Masih Gak Mau Divaksin

Alasan Sebagian Masyarakat Indonesia Masih Gak Mau Divaksin – Salah satu upaya untuk menekan angka kasus COVID-19 yang kian meningkat adalah dengan penyediaan vaksin COVID-19 dari pemerintah. Meski masih dalam tahap uji klinis, keberadaan vaksin ini diharapkan dapat melindungi masyarakat Indonesia dari pandemi.

Hingga saat ini, pemberian vaksin COVID-19 adalah solusi yang dinilai paling jitu untuk mengurangi jumlah kasus infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19. Lembaga Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei terbarunya. Selain menjajaki pendapat responden mengenai elektabilitas tokoh-tokoh politik, survei Indikator ini juga membahas soal vaksin COVID-19.

Meski demikian, hingga saat ini, efektivitas dan keamanan vaksin COVID-19 masih diteliti dalam tahap uji klinis oleh pemerintah dan berbagai lembaga terkait. Survei ini dilakukan pada 30 Juli-4 Agustus 2021menggunakan metode multistage random sampling. Ada 1.220 responden dalam survei ini. Dirangkum dari idn poker ios Adapun margin of error sekitar 2,9 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

1. 39,9 persen responden kurang bersedia disuntik vaksin COVID-19
Hampir 40 Persen Masyarakat Ogah Divaksin COVID-19, Ini Alasannya

Dari hasil survei Indikator terhadap pertanyaan ‘jika vaksin COVID-19 sudah tersedia, apakah bapak/ibu bersedia melakukan vaksinasi COVID-19?’, ternyata sebanyak 39,9 persen responden mengaku kurang bersedia. Untuk yang sangat tidak bersedia sebanyak 16,9 persen.

Sementara, untuk yang cukup bersedia ada 28,6 persen. Lalu responden yang sangat bersedia 13,9 persen.

Ada yang tidak tahu/tidak jawab (TT/TJ) sebanyak 0,6 persen.

2. Alasan paling banyak tak bersedia divaksin: efek samping
Hampir 40 Persen Masyarakat Ogah Divaksin COVID-19, Ini Alasannya

Pertanyaan lain dilanjutkan untuk responden yang menjawab kurang bersedia dan sangat tidak bersedia divaksin COVID-19, yaitu apa alasan tidak bersedia divaksin?

Hasil survei menunjukkan sebanyak 51,9 persen responden tidak bersedia divaksinasi karena memperkirakan ada efek samping yang belum ditemukan. Lalu, 16,8 persen menjawab vaksin itu tidak efektif. Rinciannya, sebagai berikut.

  • Mungkin ada efek samping yang belum ditemukan (tidak aman) = 51,9 persen.
  • Saya kira vaksin itu tidak efektif = 16,8 persen.
  • Saya rasa saya tidak membutuhkannya (badan sehat) = 12,6 persen.
  • Vaksin mungkin tidak halal = 3,9 persen.
  • Saya tidak mau membayar untuk mendapatkan vaksin = 2,5 persen.
  • Banyak orang yang akan mendapatkan vaksin jadi saya tidak perlu ikut vaksin = 1,9 persen.
  • Saya tidak mau masuk persengkongkolan perusahaan farmasi yang membuat vaksin = 0,9 persen.
  • Lainnya = 22,8 persen.
  • TT/TJ = 1,1 persen.
3. Responden puas dengan kinerja Prabowo sebagai menteri
Hampir 40 Persen Masyarakat Ogah Divaksin COVID-19, Ini Alasannya

Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, dinilai oleh publik sebagai menteri yang kinerjanya paling memuaskan. Dalam survei ini, responden yang menyatakan cukup puas terhadap kinerja Prabowo sebesar 62 persen. Disusul oleh Menparekraf, Sandiaga Uno, di urutan kedua dengan 61 persen.

Berikut daftar 10 menteri dengan kepuasan publik tertinggi:

1. Menhan, Prabowo Subianto 62 persen.
2. Menparekraf, Sandiaga Uno 61 persen.
3. Mensos, Tri Rismaharini 56 persen.
4. Menkeu, Sri Mulyani 54 persen.
5. Menteri BUMN, Erick Thohir 49 persen.
6. Menko Polhukam, Mahfud MD 49 persen.
7. Mendagri, Tito Karnavian 49 persen.
8. Mendikbudristek, Nadiem Makarim 46 persen.
9. Menag, Yaqut Cholil Qoumas 45 persen.
10. Menpora, Zainudin Amali 42 persen.