Kesalahan Orangtua yang Bisa Berdampak Buruk Ke Mental Anak

Kesalahan Orangtua yang Bisa Berdampak Buruk Ke Mental Anak

Kesalahan Orangtua yang Bisa Berdampak Buruk Ke Mental Anak – Kesehatan jiwa  atau kesehatan mental adalah keadaan sejahtera dimana individu menyadari potensi yang dimilikinya, mampu menanggulangi tekanan hidup normal, bekerja secara produktif. Saat ini, kita hidup di dunia yang semakin penuh tekanan, belum selesainya pandemik COVID-19, perubahan iklim, ketersediaan lapangan kerja, media sosial, dan sebagainya.

Dengan demikian, kesehatan jiwa memiliki aspek-aspek fisik, psikologis, sosial, dan bukan semata-mata tidak dialaminya penyakit kejiwaan. Itulah sebabnya, penting untuk menumbuhkan ketahanan emosional dan mental pada anak-anak sedini mungkin. Anak-anak yang kuat secara mental lebih siap untuk mengatasi masalah mereka sendiri di masa depan dan lebih mudah menjalani kehidupan sosial.

Namun, terkadang orang tua tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan kepada anak ternyata justru melemahkan mental mereka. Seperti beberapa kesalahan berikut ini misalnya. Sering dikira baik, tapi ternyata berdampak buruk bagi kekuatan mental anak, lho. Simak ulasannya berikut ini, yuk!

1. Meremehkan emosi anak
5 Kesalahan Orang Tua Ini Potensi Lemahkan Mental Anak, Yuk Sadari!

Daripada menyuruh anak untuk menahan emosi, lebih baik orang tua mengajari anak cara mengelola emosi untuk mengembangkan ketahanan psikologis anak. Anak perlu diberi tahu bahwa mengakui, menangani, dan mengekspresikan emosi itu adalah hal yang normal, bahkan sehat.

Oleh sebab itu, jangan meremehkan perasaan anak dengan mengatakan bahwa apa yang dialaminya bukanlah masalah besar. Sebab, ini akan menanamkan pesan bahwa ia lemah. Seiring waktu, ini akan mendorongnya untuk menekan pikiran dan emosinya.

2. Selalu memberikan apa yang anak inginkan
5 Kesalahan Orang Tua Ini Potensi Lemahkan Mental Anak, Yuk Sadari!

Setiap orang tua tentunya merasa senang saat bisa memberikan apa yang anak inginkan. Namun, selalu memberikan anak apa pun yang mereka inginkan bisa membuat mereka kehilangan keterampilan yang berkaitan dengan kekuatan mental, seperti disiplin diri.

Sepatutnya, anak-anak tumbuh dengan mengetahui bahwa mereka bisa memiliki apa yang mereka inginkan jika mereka berusaha untuk itu. Orang tua dapat mengajari anak-anak keterampilan pengendalian diri dengan menetapkan aturan yang jelas, seperti mereka harus menabung jika ingin membeli sesuatu.

3. Memastikan mereka selalu merasa nyaman
5 Kesalahan Orang Tua Ini Potensi Lemahkan Mental Anak, Yuk Sadari!

Ada banyak hal yang mungkin membuat anak merasa tidak nyaman, terutama saat mereka harus melakukan sesuatu yang baru. Namun, merangkul saat-saat tidak nyaman sebenarnya dapat meningkatkan kekuatan mental.

Jadi, dorong anak untuk terus mencoba hal-hal baru. Bantu mereka memulai sesuatu, karena itulah bagian tersulitnya. Kendati demikian, begitu anak mengambil langkah pertama tersebut, mereka akan menyadari bahwa itu tidak sesulit yang mereka kira dan mereka mungkin akan menikmatinya.

4. Tidak menetapkan batasan orang tua-anak
5 Kesalahan Orang Tua Ini Potensi Lemahkan Mental Anak, Yuk Sadari!

Orang tua tentunya ingin anak-anak bisa membuat keputusan sendiri seiring bertambahnya usia, tetapi anak juga perlu tahu bahwa orang tua adalah bosnya. Misalnya, anak diberi kebebasan beraktivitas setelah belajar, tetapi mereka sudah harus tidur pukul 9 malam dan mereka wajib mematuhinya.

Anak-anak yang kuat secara mental memiliki orang tua yang memahami pentingnya batasan dan konsistensi. Menyerah dan membiarkan aturan dinegosiasikan terlalu sering dapat menyebabkan perebutan kekuasaan antara orang tua dan anak.

5. Selalu menuntut kesempurnaan
5 Kesalahan Orang Tua Ini Potensi Lemahkan Mental Anak, Yuk Sadari!

Wajar jika kamu ingin anak menjadi yang terbaik dalam segala hal. Namun, bukan berarti anak harus selalu menjadi yang terbaik. Sebab, menetapkan standar yang terlalu tinggi dapat menyebabkan masalah harga diri dan kepercayaan diri di kemudian hari.

Bangun kekuatan mental pada anak-anak dengan menetapkan ekspektasi yang realistis. Bahkan, jika anak-anak belum berhasil meraihnya, kemunduran yang mereka hadapi akan tetap memberikan pelajaran hidup yang berharga.