Sebanyak 350 Ribu Jiwa Mengalami Kelaparan di Tigray

Sebanyak 350 Ribu Jiwa Mengalami Kelaparan di Tigray

Sebanyak 350 Ribu Jiwa Mengalami Kelaparan di Tigray – Kelaparan adalah suatu kondisi di mana tubuh masih membutuhkan makanan, biasanya saat  perut telah kosong baik dengan sengaja maupun tidak sengaja untuk waktu yang cukup lama. Kelaparan adalah bentuk ekstrem dari nafsu makan normal.

Istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk kepada kondisi kekurangan gizi yang dialami sekelompok orang dalam jumlah besar untuk jangka waktu yang relatif lama, biasanya karena kemiskinan, konflik politik, maupun  kekeringan cuaca.

Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu, IPC, pada hari Kamis (10/6/2021) merilis sebuah laporan mengenai Agen Poker77 krisis di Tigray. Badan analisis PBB itu dalam laporannya menyampaikan bahwa sekitar 350 ribu orang di Tigray, Ethiopia berada dalam kondisi kelaparan dan jutaan orang lainnya membutuhkan bantuan pangan.

1. Tigray berada dalam bencana fase 5

Dilansir Reuters, kepala bantuan PBB Mark Lowcock mengomentari laporan tersebut, dia menyampaikan. “Jumlah orang dalam kondisi kelaparan … lebih tinggi daripada di mana pun di dunia, setiap saat sejak seperempat juta orang Somalia kehilangan nyawa pada 2011.”

Dilaporkan bahwa saat ini sebagian besar 5,5 juta orang di Tigray membutuhkan bantuan makanan. Pertempuran pecah di wilayah itu pada November 2020 antara pasukan pemerintah dan mantan partai yang berkuasa di wilayah itu, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF). Dalam pertempuran itu pasukan dari negara tetangga Eritrea juga memasuki konflik untuk mendukung pasukan Ethiopia. Konflik Tigray telah menewaskan ribuan warga sipil dan memaksa sekitar 2 juta orang untuk mengungsi.

Laporan IPC yang mengumpulkan data dari Mei-Juni 2021 ini mengatakan lebih dari 350 ribu orang di Tigray berada dalam bencana fase 5. Fase 5 merupakan peringatan paling ekstrim oleh IPC untuk menentukan kerawanan pangan, yang dimulai dengan peringatan bencana dan dapat meningkat menjadi deklarasi kelaparan di suatu wilayah.

IPC menyampaikan bahwa krisis parah di Tigray ini diakibatkan oleh efek konflik yang berjenjang, termasuk perpindahan penduduk, pembatasan pergerakan, akses kemanusiaan yang terbatas, hilangnya panen dan aset mata pencaharian, dan pasar yang tidak berfungsi atau tidak ada. Jika tidak ada penanganan yang tepat kondisi diperkirakan akan memburuk hingga September.

Hasil analisis IPC dibantah oleh pemerintah Ethiopia, yang mengatakan kekurangan pangan tidak parah dan bantuan sedang dikirimkan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Ethiopia, Dina Mufti mengatakan pada konferensi pers pada hari laporan IPC dirilis bahwa pemerintah memberikan bantuan makanan dan bantuan kepada petani di Tigray. “Mereka (diplomat) membandingkannya dengan kelaparan 1984, 1985 di Ethiopia,” katanya. “Itu tidak akan terjadi.”

2. AS berikan Rp2,5 triliun untuk bantuan kemanusiaan di Tigray
PBB: 350 Ribu Orang di Tigray Mengalami Kelaparan

Dilansir Al Jazeera, peringatan kondisi Tigray itu muncul ketika AS dan UE mengeluarkan permohonan yang mendesak adanya upaya internasional yang lebih besar dalam mengatasi krisis di wilayah, di mana lebih dari 90 persen penduduknya membutuhkan bantuan pangan darurat.

Perwakilan AS di PBB, Linda Thomas-Greenfield mengatakan pada acara meja bundar, bahwa kelaparan telah terjadi, dia mengecam kegagalan Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan pertemuan publik untuk mengakhiri krisis. Dewan tersebut dijadwalkan akan membahas masalah Tigray pada 15 Juni, tetapi sesi itu akan diadakan secara informal karena oposisi Ethiopia terhadap dewan mengambil masalah tersebut, pandangan yang dibagikan ke berbagai tingkat oleh beberapa anggota, termasuk Rusia, Tiongkok, Vietnam, India dan negara-negara Afrika.

Duta besar AS di PBB itu menyampaikan bahwa PBB membutuhkan lebih dari 200 juta dolar AS (Rp2,8 triliun) untuk meningkatkan penanganan krisis di Tigray. Untuk merespon masalah di Tigray, AS pada 9 Juni mengumumkan bantuan 181 juta dolar AS (Rp2,5 trilun) untuk “memberikan makanan yang menyelamatkan jiwa, persediaan pertanian, air minum yang aman, tempat tinggal, perawatan kesehatan dan layanan penting” kepada mereka yang membutuhkan di Tigray.

3. Kriteria kelaparan PBB
PBB: 350 Ribu Orang di Tigray Mengalami Kelaparan

Dilansir BBC, PBB menetapkan kriteria tertentu untuk menentukan suatu wilayah kelaparan, sehingga laporan IPC itu tidak secara resmi menyatakan kelaparan karena definisi kata itu memiliki arti yang sangat spesifik. Dalam acuan PBB kekurangan makanan dapat menyebabkan sejumlah besar orang kekurangan gizi, tetapi jarang sampai kelaparan. Musim kemarau yang panjang dan masalah lain yang mengurangi pasokan makanan tidak serta merta disebut sebagai kelaparan.

Suatu wilayah dinyatakan kelaparan hanya ketika ukuran tertentu dari kematian, kekurangan gizi dan kelaparan terpenuhi, yang setidaknya 20 persen rumah tangga di suatu daerah menghadapi kekurangan pangan yang ekstrim dengan kemampuan terbatas untuk mengatasinya, tingkat malnutrisi akut melebihi 30 persen, dan
tingkat kematian melebihi dua orang per hari per 10 ribu orang.

Deklarasi kelaparan tidak membawa kewajiban yang mengikat pada PBB atau negara-negara anggota, tetapi berfungsi untuk memusatkan perhatian global pada masalah tersebut. Kelaparan telah dinyatakan dua kali dalam dekade terakhir, yang pertama di Somalia pada 2011 dan kedua di beberapa bagian Sudan Selatan pada 2017..

Bencana kelaparan Merupakan sebuah bencana besar yang dikarenakan kurangnya bahan pangan di suatu wilayah. Efeknya tersebar luas, dan kerusakan yang disebabkan oleh bencana kelaparan bisa bertahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sering kali kelaparan juga disebabkan oleh bencana alam lain, seperti gempa atau tsunami yang menghancurkan seluruh wilayah, dan menyebabkan eksodus massal. Kematian karena kelaparan dan kekurangan gizi sangat menyakitkan, dan sering terjadi pada balita maupun lansia.