Warga Tunisia Memprotes Kekerasan yang Dilakukan Para Polisi

Warga Tunisia Memprotes Kekerasan yang Dilakukan Para Polisi

Warga Tunisia Memprotes Kekerasan yang Dilakukan Para Polisi – Polisi Tunisia menembakkan gas air mata pada Jumat (11/6/2021) untuk membubarkan pengunjuk rasa di lingkungan Sejoumi setelah video yang menayangkan polisi menelanjangi dan memukuli seorang pemuda memicu kemarahan yang meluas. Video tersebut memicu kritik dari partai politik dan organisasi hak asasi manusia.

Perdana Menteri Hichem Mechichi mengatakan petugas yang terlibat telah diberhentikan dari tugas dan insiden yang tidak dapat diterima itu sedang diselidiki. Pada Jumat malam, saksi mata mengatakan kepada Reuters pengunjuk rasa memblokir jalan, membakar ban dan melemparkan batu ke arah polisi, dan petugas menanggapi dengan gas air mata dan mengejar demonstran melalui jalan-jalan Sejoumi.

Warga di Tunis kembali terlibat bentrokan dengan polisi pada hari Sabtu, waktu setempat, dalam unjuk rasa yang menentang Agen Poker77 kekekerasan polisi. Polisi diprotes setelah aksinya dalam bertugas yang melakukan kekerasan terhadap warga di wilayah kelas pekerja Sidi Hassine, yang berada di pinggiran kota Tunis.

1. Kematian seorang pemuda memicu unjuk rasa
Warga Tunisia Protes Kekerasan Polisi di Area Kelas Pekerja

Dilansir Euro News, bentrokan yang pecah pada hari Sabtu antara pasukan keamanan Tunisia dan ratusan pengunjuk rasa muda yang turun ke jalan-jalan di pusat Tunis untuk memprotes lonjakan kebrutalan polisi di lingkungan kelas pekerja Tunisia.

Dalam aksi unjuk rasa yang rusuh tersebut demonstran di Tunis melemparkan tongkat, kursi, dan botol air ke pasukan keamanan, yang dibalas Petugas dengan menembakkan gas air mata dan secara kasar menahan beberapa orang.

Liga Tunisia untuk Pertahanan Hak Asasi Manusia (LTDH) menyampaikan bahwa bentrokan pada hari Sabtu mengikuti bentrokan tiga hari berturut-turut, yang merupakan respon warga terhadap kematian seorang pemuda “dalam keadaan mencurigakan” di daerah kelas pekerja Sidi Hassine. Pemuda tersebut tewas pada hari Selasa (8/6/2021) setelah ditangkap oleh polisi karena dicurigai mengedarkan narkoba.

Dalam sebuah pernyataan, LTDH mengecam kekerasan yang dialami warga selama bentrokan dengan polisi yang dianggap sebagai tindakan untuk membungkam suara protes. Kelompok itu menyalahkan Perdana Menteri Hichem Mechichi, yang juga merupakan menteri dalam negeri sementara Tunisia.

2. Demonstrasi mengigatkan kejadian di masa lalu
Warga Tunisia Protes Kekerasan Polisi di Area Kelas Pekerja

Dilansir TRT World, sebelum bentrokan pada hari Sabtu meletus beberapa lusin aktivis sayap kiri dan penduduk di wilayah kelas pekerja Sidi Hassine berdemonstrasi di depan kementerian dalam negeri untuk memprotes kematian pemuda tersebut, yang dianggap keluarganya sebagai akibat kekerasa polisi yang telah memukulinya sampai mati.

Pihak berwenang telah membuka penyelidikan, tetapi kementerian dalam negeri pada 10 Juni telah membantah bahwa dia meninggal karena perlakuan buruk petugas setelah menangkapnya.

Dilansir Al Jazeera, dalam demonstrasi hari Sabtu para pengunjuk rasa mengingatkan keluhan masa lalu setelah kematian seorang pendukung Club Africain berusia 19 tahun bernama Omar Laabidi pada 2018. Unjuk rasa itu diikuti ibu dari tiga pemuda yang meninggal selama tiga tahun terakhir setelah ditangkap. Mereka menyampaikan bahwa aksi mereka ini untuk mendapatkan keadilan bagi anak-anak mereka. Ibu Laabidi mengatakan dia masih menunggu hak putranya dihormati.

3. Anak di bawah umur ditelanjangi dan dipukuli di distrik Sidi Hassine
Warga Tunisia Protes Kekerasan Polisi di Area Kelas Pekerja

Dilansir Euro News, bentrokan pada hari Sabtu dalam beberapa hari di Tunis selain dipicu karena kemarahan terhadap kematian seorang pemuda juga karena tindakan polisi yang kejam pada 10 Juni, ketika seorang anak di bawah umur ditelanjangi dan dipukuli oleh pasukan polisi, yang juga terjadi di lingkungan kelas pekerja Sidi Hassine. Tindakan kekerasan polisi itu dketahui setelah video pemukulan terhadap anak di bawah umur tersebut beredar luas di media sosial.

Pihak berwenang menyampaikan bahwa pemuda yang dipukuli dalam video tersebut sedang dalam keadaan mabuk. Terkait aksi itu Kementerian Dalam Negeri mengakui petugas penegak hukum bertanggung jawab atas serangan itu dan memastikan mereka ditangguhkan dari tugas mereka.

Dilansir Al Jazeera, aksi kekerasan polisi yang terjadi menunjukkan bahwa pasukan keamanan Tunisia belum melihat reformasi yang berarti, sejak negara itu menggulingkan penguasa lama Zine El Abidine Ben 10 tahun lalu dalam aksi yang disebut Revolusi Musim Semi Arab. Petugas sangat jarang menghadapi tuntutan atas dugaan pelanggaran.

Kekerasan baru-baru ini membuat Komisi Hak Asasi Manusia Tinggi Tunisia mengatakan pada 10 Juni bahwa insiden yang terjadi di Sidi Hassine berisiko merusak “kepercayaan pada negara dan institusinya”.

Satu dekade setelah revolusi melawan kemiskinan, ketidakadilan dan negara polisi, Tunisia telah membuat kemajuan menuju demokrasi tetapi masalah ekonominya telah memburuk, dengan negara di ambang kebangkrutan dan layanan publik dalam situasi yang mengerikan.Aktivis hak asasi manusia mengeluhkan pelanggaran polisi berulang kali seperti insiden di ibu kota yang tertangkap kamera.